SELAMAT DATANG DI BORNEO BARU

Diskusi Bersama Pakar Ekonomi Kerakyatan dari Phlipina

Wednesday, June 10, 2009

Menyikapi perkembangan ekonomi global dan peran lembaga ekonomi kerakyatan di West Boneo, Tribune Institute (TI) dan Center for Research and Inter-Religious Dialogue (CRID) akan menggelar diskusi terbatas bersama pakar Ekonomi Kerakyatan dari University of Santo Thomas (UST) dan PDCIS, Philipina, yaitu Fr. Pedro Salgado, Op, Prior of our lady of Manaoag Convent. Pada 13 Juni 2009, pukul 09.00 – 12.00 WIB di Sekretariat Tribune Institute, Jalan Purnama Dalam No 1 Pontianak. Informasi lebih lanjut dapat di peroleh di Kantor Tribune Institute, Jl Purnama Dalam No 1 Pontianak, Tlp 0561-7980789

Read full post >>

Kreasi dan Keberagaman adalah Kekuatan

Pelajar SMA St Ignasius Singkawang bersama Sanggar Singka Sastra (SSS) yang diprakarsai Nano L. Basuki kembali membuat terobosan untuk membangun sastra di Kota Singkawang. Terobosan itu dengan meluncurkan sebuah buku berjudul Antologi Puisi Delapan Warna dengan dihadiri Ekeskutif Derectur Tribune Institut, A. Alexander Mering.
“Buku ini seluruhnya berisikan puisi yang ditulis beberapa siswa-siswi SMA St Ignasius Kota Singkawang,” kata Nano Basuki, pendamping sekaligus guru di SMA St Ignasius Singkawang, saat ditemui Selasa (5/5) sebelum launcing buku yang di gelar di salah satu radio swasta Singkawang.
Nano yang juga pengurus SSS menuturkan pihaknya berusaha untuk menerbitkan karya-karya para penulis muda di Kota Singkawang. Usaha itu untuk menyusun kata dalam menjawab persoalan sastra di kota Singkawang.
“Dibalik melesatnya cipta sastra diberbagai kota di Indonesia, Singkawang masih harus merasa gerah dengan persoalan pemetaan sastra,” kata Nano.
Karena sulitnya pemetaan sastra tersebut, Nano berusaha untuk menggali potensi pada pelajar. Dengan usaha itu, Nano bersama pelajar SMA St Ignasius Singkawang telah melahirkan beberapa buku, termasuklah buku Antalogi Puisi Delapan Warna.
Antalogi puisi delapan warna itu ditulis tujuh siswa dan satu orang guru. Tujuh siswa itu adalah Chandra, Eka Indrasari, Ferdy Juan Halim, Frendy, Ivon Thomas, Kevin Hendranata, Stella Bianca Karman, yang semuanya siswa siswi SMA St. Ignasius. Kemudian satu gurunya adalah Nano L. Basuki.
Nano sebagai penulis paling tua. Baik untuk umur ataupun pengalaman. Nano senang beradu kreatifitas dalam dunia mengarang dengan anak-anak muda. Nano sendiri telah melahirkan beberapa buku antologi puisi. Salah satunya, tiga merawat kata yang tersebar dibeberapa tokoh buku di Jogjakarta dan Pontianak.
Selain muatan isi, buku delapan warna itu juga memiliki keistimewaan tersendiri dengan kata pengantar yang ditulis Walikota Singkawang, Hasan Karman, S.H, M.M.
“Saya menyambut baik diterbitkannya buku Antologi Puisi Delapan Warna ini. Antologi ini adalah hasil beberapa penulis. Kita berikan apresiasi yang setinggi tingginya,” kata Hasan Karman dalam sambutan yang ditulisnya.
Menurut Hasan, perbedaan warna, gaya, kreasi dan keberagaman adalah kekuatan, bukan kelemahan.
“Dengan memberikan apresiasi, kita memanusiakan diri kita dengan belajar menghargai hasil kreasi orang lain. Kiranya tuhan menolong kita,” ujar Hasan Karman
Executive Director Tribune Institut, A.Alexander Mering, yang diundang secara khusus dalam launcing buku itu juga memberikan apresiasi yang tinggi. Mering berharap, launcing buku itu merupakan awal dan menjadi penyemangat bagi pelajar lainnya untuk mengahsilkan tulisan serupa, atau lebih baik lagi.(Sumber http://singkawangkota.go.id/PDE)

Read full post >>

Untan, Bonn University dan Tribune Institute, Lembaga Tripartit Gelar Seminar Internasional Bioenergi

Sunday, May 10, 2009

by Nur Iskandar

Masalah besar tersebut tidak terkecuali terjadi di Kalimantan Barat yang merupakan salah satu provinsi di Indonesia, bahkan luasnya 1,5 kali luas Pulau Jawa. Di mana di Kalimantan Barat penduduk terus bertambah, terjadi konversi lahan hutan menjadi perkebunan dan pemukiman, serta tak terlepas pula dari dampak perubahan iklim global (climate change).


Menyadari permasalahan tersebut, tiga lembaga masing-masing Universitas Tanjungpura (Untan), Bonn University dan Tribune Institute menggagas seminar internasional tentang bioenergi peluang dan ancamannya bagi Kalimantan Barat. Seminar tersebut akan digelar pada hari Sabtu, 21 Maret 2009 bertempat di Amphi Teatre Fakultas Kedokteran dengan kapasitas peserta sekitar 150 orang.

Seminar internasional ini akan dibuka oleh Rektor Untan, Dr Chairil Effendy, MS dan dilanjutkan dengan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dalam hal studi dan riset bersama antarlembaga, serta kemudian dilanjutkan dengan sesi seminar.

Kepala Kantor Internasional (International Office) Untan, Dr Elvira menyatakan segala sesuatunya sudah siap untuk dihelat. "Kita sudah beberapa kali rapat untuk menyusun kerangka isi MoU maupun seminar. Bahkan bersama Pembantu Rektor IV pada hari Selasa yang lalu kita sudah cek lapangan."

Menurut staf pengajar di program magister teknik ini akan tampil sebagai pembicara dari pihak-pihak kompeten. Mereka adalah Dr Oliver Pye dari Bonn University yang baru saja menyajikan workshop di Singapura, seminar di Unpad maupun UGM perihal transnasional bioenergi, Kepala Bappeda Kalbar Ir Fathan A Rasyid, M.Agr perihal rencana pengembangan Kalimantan sebagai lumbung energi nasional, maupun peneliti Untan dari F-MIPA Dr Thamrin Usman, DEA serta Kepala Pusat Studi Energi Untan, Dr Ismail Yusuf. Adapun dari Borneo Tribune dan Tribune Institute menampilkan analisa isi pemberitaan (content analysis) perihal bioenergi di media.

Seminar mengundang stakeholder di Kalbar meliputi civitas akademika, ilmuan, aktivis lingkungan, pemerintahan, bahkan perusahaan-perusahaan kehutanan maupun perkebunan. Tujuan melibatkan semua pihak ini agar forum seminar bisa menjadi ajang urun-rembug maupun penyamaan visi-misi dalam menyelamatkan lingkungan bumi yang hanya ada satu ini.

Seminar dimulai pukul 08.30 dan berakhir pada pukul 12.00 WIB. "Bagi pihak yang belum mendapatkan undangan dapat mengontak langsung kami di International Office Untan, atau Harian Borneo Tribune yang satu kompleks dengan Tribune Institute di Purnama," tambah Elvira.

Di tempat terpisah Rektor Untan, Dr Chairil Effendy menyatakan bahwa Untan ingin tampil terdepan dalam riset biodiversity termasuk peluangnya terhadap sumber daya energi. "Kita di Kalbar mempunyai banyak potensi, sayang jika tidak tergali. Adapun cara menggalinya tentu saja melalui riset, dan riset itu mesti melibatkan banyak pihak, tenaga, bahkan biaya. Oleh karena itu tepat jika kita bisa bekerjasama, terlebih dengan Bonn University dari Jerman," imbuhnya.

Untan, kata Chairil telah membuka International Office dengan tujuan merawat hubungan internasional, menumbuh-kembangkan kerjasama Utara-Selatan, Barat dan Timur. "Kita harus bergerak cepat karena besarnya keinginan untuk maju dan mencapai kesejahteraan bagi masyarakat luas. Kita tak mau Kalbar dikenal kaya potensi, tapi rakyatnya tetap miskin," imbuh rektor yang juga Ketua Forum Rektor Indonesia.

Read full post >>

Pra Seminar Internasional Bioenergi

Saturday, March 21, 2009

by Nur Iskandar

Peneliti bioenergi dari Bonn University, Dr Oliver Pye didampingi dosen Bahasa Indonesia di Bonn University, Yanti Mirdayanti, MA melakukan silaturahmi antarlembaga sebelum digelarnya seminar internasional bioenergi di Amphi Teatre, Fakultas Kedokteran Untan, Sabtu (21/3) yang akan datang.



Kedua delegasi Bonn University ini mengunjungi Internasional Office Untan, Walhi, Aman, Gemawan, Borneo Tribune dan Tribune Institute, FLEGT serta sejumlah tokoh penting di Kalbar.

Oliver Pye sebelum ke Kalbar terlebih dahulu tampil dalam workshop atau lokakarya perihal bioenergi lintas negara (transnasional) dipandang dari aspek ekonomi, sosial dan politik serta lingkungan hidup di Singapura dan berlanjut di Universitas Padjajaran (Bandung) serta Universitas Gadjahmada (Yogjakarta). Kesemua kegiatan itu berlangsung secara akademik dan sukses.

Oliver dan Yanti Mirdayanti tiba di Pontianak pada Minggu (15/3) dan langsung mengunjungi Komunitas Cinte Aek Kapuas yang mempunyai jadwal launching komunitas peduli lingkungan sungai terpanjang di Indonesia yakni Sungai Kapuas. Di forum ini Oliver dan Yanti Mirdayanti bicara betapa pentingnya menjaga urat nadi Kalbar pada khususnya melalui Sungai Kapuas. "Jika Kapuas bisa dijaga kebersihan lingkungannya, lingkungannya ditata sedemikian rupa, ia akan menjadi aset pariwisata dan sumber inspirasi bagi penduduknya," kata Yanti Mirdayanti seraya menjelaskan betapa indahnya sungai-sungai di Eropa dan Amerika karena terjaga dari pencemaran sampah maupun limbah. Jalan di kiri dan kanan sungai juga jadi pemikat aktivitas berhadapan dengan sungai nan luas. "Potensi Kalbar untuk maju pariwisatanya sangat besar. Kita berkepentingan menjaga dan memeliharanya," kata Oliver yang semasa kanak-kanaknya juga berada di kawasan sungai kota kecil di Jerman. "Saya suka Sungai Kapuas. Jauh lebih panjang dan luas ketimbang sungai di Bonn," pujinya.

Kedatangan Oliver dan Yanti Mirdayanti disambut hangat Komunitas Cinte Aek Kapuas yang notabene para fotografer, sineas, jurnalis dan tokoh-tokoh pariwisata kota. Mereka antara lain Wakil Walikota Paryadi, S.Hut, Kepala Dinas Pariwisata Kota, Dirut Gadjahmada Hotel, PHRI, Canopy Indonesia dan lainnya.

Di Internasional Office Untan silaturahmi Oliver Pye dan Yanti Mirdayanti disambut Kepala Internasional Office, Dr Elvira dan rekan. Di kantor Internasional Office yang sementara ini menumpang di Magister Teknik mengupas rencana kerjasama riset perihal bioenergi. Kerjasama itu melibatkan Untan, Borneo Tribune/Tribune Institute dan Bonn University.

Selain membahas MoU Oliver dan Yanti ditemani Purek IV Bidang Kerjasama Ir HM Iqbal serta Dr Elvira mengunjungi Fakultas Kedokteran dan dilanjutkan keesokan harinya berdialog dengan Rektor Untan, Dr H Chairil Effendy, MS. Rektor yang low profile ini menyambut hangat dengan merangkai program-program pengembangan kerjasama mutual hingga ke depan secara internasional. Katanya, Untan ingin tampil terdepan dalam meneliti dan memanfaatkan keanekaragaman hayati milik Kalbar.

Sebelum menemui Chairil Effendy yang juga Ketua Forum Rektor Indonesia, Oliver dan Yanti Mirdayanti berdialog silaturahmi bersama Ketua Walhi Saban Setiawan. Di sekretariat Walhi Saban mengatakan tidak benci akan sawit karena tanaman ini ada gunanya bagi ekonomi masyarakat maupun bioenergi, tetapi tata cara pembukaan lahan sawit yang tidak memenuhi aturan main sesungguhnya telah merusak alam. Hal ini menjadi bahan kampanye mereka untuk diperangi. "Peraturan dibuat pemerintah untuk dilanggar sendiri. Berapa banyak uang dibuang sia-sia untuk itu. Lihat saja Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau AMDAL bisa keluar dalam waktu satu minggu. Mana mungkin hal itu bisa terjadi," ulasnya.

Di Aliansi Masyarakat Adat Nasional (Aman) Oliver Pye dan Yanti Mirdayanti disambut ketuanya Sujarni Aloy. Penulis buku dan peneliti tersebut mengatakan mereka kampanye anti sawit karena lahan hutan yang dibuka menyebabkan kerusakan lingkungan. Hal lain yang terjadi adalah rakyat tetap miskin di sekitar perkebunan. Dalam kasus yang lain masyarakat dipukuli fisik dan hak-hak tanah maupun kebudayaan mereka.

Oliver Pye dan Yanti Mirdayanti di FLEGT disambut ketuanya Thadeus Yus. Thadeus dengan sistematis menjelaskan kaitan lembaganya yang mendorong manajemen hutan secara lestari dengan efek domino kerusakan lingkungan akibat illegal logging. Sedangkan di Gemawan, Oliver dan Yanti disambut ketuanya, Lely yang pernah bertandang ke Belanda untuk menjelaskan sawit di parlemen Negeri Kincir Angin tersebut. Lely mengatakan lembaganya mengadvokasi kaum tertindas dari pembukaan perkebunan. Sejumlah kasus berhasil diavokasi, tetapi banyak kasus yang lain mereka berhadapan dengan power nan mengancam keselamatan sehingga butuh dukungan internasional.

Oliver dan yanti juga berdiskusi di dapur redaksi Borneo Tribune dan Tribune Institute untuk mengeksplorasi agenda riset bersama secara lebih mendasar.

Seminar internasional bioenergi dihelat dalam kerangka berpikir akademis serta mengupayakan riset agar bermanfaat bagi penyelamatan bumi. Sekecil apapun suatu daerah dan bangsa, di era kesejagatan ini semua saling terkait, interkoneksi, transnasional dan global.

Read full post >>

What makes one go to Ketapang? – A lot!

Thursday, February 26, 2009

Some Thoughts On Travel Guides And The Tourist Image Of Kalimantan

By Mathias Waldmeyer

When it was time to plan my Christmas Holidays last year in November, I first thought about where I would like to go and what I would like to see. I opened my Lonely Planet Borneo and had a look at what they suggested. On one of the first pages there was a map with the highlights of Borneo. There were national parks, animals, beaches and mountains. What became obvious at first glance was: Most attractions, following the Lonely Planet, were in the Malaysian part of the island.
Next to the map was a brief description of the different tourist highlights. Sabah had one page, Sarawak had another one, and there was even one page, although less filled, for Brunei. But, I wondered, the whole of Kalimantan had also just one page. Ok, I thought by myself, maybe tourism is not so far developed yet in the biggest part of Borneo. All the spots mentioned in Kalimantan were far away from each other and access turned out to be difficult sometimes. For sure this would be adventurous – what I like, by the way – but I thought because of my limited time I rather choose a place where I don’t lose too much time with transportation – and where I can still have adventure.
In the end, I chose Sabah. I didn’t know exactly yet where I wanted to go, but there were many beautiful beaches, islands, turtles, orang-utans, hornbills, elephants, rivers and Mount Kinabalu all easily accessible – again, following the travel guide in my hands. But during the next days, I mentioned my plans to a couple of German friends of mine. And what did they say? “Good choice! Except for Bali and Lombok, Indonesia doesn’t have good beaches!” Obvious, that’s the image of Indonesia in general and Kalimantan in particular. An image that, maybe, is transported by travel guides.
I know that the current Indonesian tourist spot shown on international TV channels tries to change this by picturing a lot of beautiful beaches. But Kalimantan generally has a different image. For example people think of adventure, remoteness, riding a boat on the River Kapuas, orang-utans, culture and tradition, they think of many different ethnicities – and some people, like Christian, even joke about head-hunters.
Two weeks ago, I had the chance to spend a long weekend in Ketapang for a workshop organised by Borneo Tribune, Tribune Institute, Borneo Blogger Community, Pemkab and Disbudpar Ketapang on the role of media and information technology for the tourism industry. For sure, I checked my Lonely Planet again and found, well… not much on Ketapang. I read that the many swiftlets have replaced the people in the city centre, that the nice river is mainly invisible, and that there are good, unspoiled beaches some 80 km away in Kendawangan. And, of course, Gunung Palung National Park is not far.
I was after all very happy to go to Ketapang. Maybe, I thought, there is not much to see there, but already the journey promised to be exciting, because we took the ferry along the coastline. I loved it so much when we left Pontianak in bright sunlight to just watch the river bank, or to see other ships pass by. When you go outside, you feel the wind blowing into your face. You can feel the sun. It’s a time for letting your thoughts come and go. A time for dreaming. Sometimes you see island, even very small one. You think, how it would be like to own one of them, or to just land there and explore it. Will you find somebody there? How are the animals like? Are there exotic birds flying around and repeating every single word you say? Apart from looking outside, I also liked it very much just to sit and find the time to read a book, what always falls short in everyday life.
When we arrived in Ketapang, we were invited to have lunch together. There was a nice place called JogloResto where you sit in wooded huts next to some ponds. Also the food was good and it had a good atmosphere to spend some time there. Over night we stayed in the Hotel Perdana. Generally, I liked it there, maybe except for the music that plays at night in the corridors and woke me up several times in the morning. But the facilities are good and the people are friendly. What is more, it is placed next to little park where you can sit at the banks of the Sungai Pawan. I was astonished to really find so many swiftlet-houses all around the hotel. Wow, they can be loud! But it was nice to hear some birds in Indonesia after all, because back in Germany I expected to hear lots of birds in Indonesia as this is my image of a tropical country!
The following afternoon, we went to the beach close to Ketapang. What can there be more: A river and beach in one city! Great! Even though we were not able to swim as it was quite muddy and the water was shallow, the view was magnificent. We waded through the water and had a great photo session there in front of the beautiful sunset. After the sun was gone, we washed our feet in a warung at the beach, where in the twilight we watched somebody cooking food at the open fire. It was a great moment. For a little while we sat outside in the wooden huts, had a chat and drank coconuts. I simply loved it.
When we drove through town at one of the evenings, I was surprised to see that there was a fairground. From the car I could see stalls, a Ferris wheel and many people enjoying themselves. There were so many people and cars around, that our second car on the way to the restaurant was hold up in a traffic jam. But they were lucky: There was still enough food when they finally arrived at the restaurant by walking.
On our last day in Ketapang we were invited to kampung ale-ale, a village close to the sea where the people live from catching and selling mussels. I was surprised to see the village roads covered with mussel shells. Everything was white. What an astonishing view! We took great pictures as many people were interested in us, especially the kids. Obviously not many Western people come here. Everywhere you could see piles of mussel shells. Next to one house, there were two or three women sitting and opening shells. I was so impressed to see how fast they are! Dorina sat down to try her luck with opening some shells herself. I thought, she was doing fine and it was great to see – but the other women opened maybe six or seven in the same time! Really fast they were!
After this we were invited to a house in the village to eat ale-ale. But not only were we served the mussels, the family did not stop to bring all kinds of food outside to the veranda. There was hardly any space to sit down any more, so much food was there! It tasted so great that I couldn’t stop eating the mussels.
At late afternoon we drove on to the seaside. We sat down on a footbridge surrounded by wooden huts and watched the sunset. It was very quiet here, everybody – the locals and we – were happy to sit peacefully and enjoy the beautiful view. A little later, we saw many fisher boats passing to reach the open see for their night’s work. I could have sat there forever.
So, why is nothing of this mentioned in my travel guide? I had a great time in Ketapang, but if I had only trusted the guidebook, I would have never seen the place! I think, Ketapang should make a good campaign for more people to go there. I myself would love to go back. And, what is more, Ketapang seems to be the town where you can play futsal every evening!

Read full post >>

Recent Works

Followers